Posted by: itiw | March 30, 2008

My abOat….

naMA qu tiWi…

aKu adaLah aNak ke-3 daRi 4 saUdara,.

and saya aNak daRi keLuarga beSar yang bernama kodri…

ya…. wajaR aja…naMa beLakang qu kan koDri…

duLu aKu anaK yang maNja and toMboy….

tapi seKarang liHat lah diRi qu………………….

masiH sePerti yang duLu

hahahaha….

oiY kLO mw tw aQ seLengkapnya…

maSuk j ke friEndster  : wie_lup69@yahoo.com

oKay dEh segiNI ja kaLi ya…teNtang diRi qu…

^_^ hehehew…

Posted by: itiw | March 29, 2008

bayi-imoet.jpg

Posted by: itiw | March 29, 2008

Pengalaman Salah Kamar

Sewaktu saya pulang kerja pada saat itu saya lembur sampai jam 22.00 WIB. Saya kecapean sampai-sampai saya keterusan naik bus sampai pool bis tersebut akhirnya saya kembali pulang naik bus itu lagi…

Dan setelah saya turun saya lupa meminta kembalian saya. Tarif bus Rp. 1.300 saya memberi uang ke kernet Rp. 20.000.-. Akhirnya saya relakan saja. Sampai di kost, pagarnya dikunci, akhirnya saya memanjat pagar yg tidak terlalu tinggi.

Saking lelahnya, saya langsung menuju kamar saya. Setelah saya ingin buka dengan kunci saya, kok tidak masuk, dan ada orang didalam kamar saya. Saya gedor-gedor pintu lalu ada ada seorang lelaki membuka pintu. Saya marah-marah sambil menyebutnya maling.

Mungkin karena saya badannya lebih besar dari dia dan berkulit hitam asal Flores, dia sangat ketakutan melihat saya marah…

Lalu bapak kost langsung menghampiri saya…

“Andre, ada apa? malam2 ribut!!”
Saya menjelaskan bahwa ada orang yang tidak dikenal di kamar saya. Lalu bapak kost menjawab dengan gelak
tawa…

“Andre,…Andre…kamu bagaimana…loh wong kamarmu di atas kok”.

Setelah saya lihat memang benar…maklum kecapean. dan saya berlalu menuju kamar tanpa basa-basi dengan rasa malu…

Posted by: itiw | March 29, 2008

Obat Nyamuk dan Obat Cacingan

Pada suatu hari Dodol bertemu Dedel dijalan,kemudian terjadilah percakapan..

Dodol : “Del mau kemana?”
Dodol : “Ini loh mau kewarung beli obat nyamuk…”
Dedel : “Loh memangnya nyamuk kamu sakit apa?” (sambil ketawa2 hahaha…)

Dodol jengkel akhirnya langsung meninggalkan Dedel sambil menggerutu “AWAS YA NANTI AKU PASTI BALAS”, besoknya Dodol bertemu Dedel kembali… dan terjadilah percakapan…

Dodol : “Del mau kemana?”
Dedel : “Ah nggak mau ke apotik beli obat Cacing..buat anakku…”
Dodol : “Loh Del,ternyata anakmu itu Cacing yah?” (sambil ketawa hahaha….)

Posted by: itiw | March 29, 2008

gantengin.jpg

Posted by: itiw | March 29, 2008

ExtraBOSSS

Posted by: itiw | March 29, 2008

Waspada Ketidaklulusan Ujian Nasional

Ujian Nasional 2008 tinggal menghitung hari lagi. Meskipun mendapat reaksi negatif dari sejumlah kalangan, namun pemerintah kukuh pada pendirian bahwa ujian nasional merupakan salah satu instrumen peningkatan kualitas pendidikan. Betulkah? Penulis tidak yakin dengan hal itu. Termasuk alasan pemetaan kualitas pendidikan yang terbukti hingga kini belum memberikan hasil yang signifikan. Justru, semua alasan itu hanya menjadi alibi bagi pemerintah untuk tetap ‘memaksakan’ kebijakan UN.

Yang pasti saat ini, sebagian besar siswa dan juga orang tua dihantui bayangan ketidaklulusan dalam ujian nasional. Tentu ini merupakan hal yang wajar, sebagai seorang siswa, tak seorang pun yang ingin gagal dalam tahapan terakhir. Begitupula dengan orang tua. Mereka tak ingin perjuangan tiga tahun terakhir ini pupus hanya dalam dua jam di atas meja ujian.

Dari data tahun 2007, persentase ketidaklulusan secara nasional untuk SMA sebesar 7,5 %, SMK sebesar 9 %, sedangkan Madrasah Aliyah (MA) 9, 22 %. Melihat angka-angka itu persentase kelulusan memang terbilang cukup tinggi. Tetapi tunggu dulu, itu jika kita berbicara persentase. Tetapi, jika kita berbicara jumlah siswa yang tidak lulus, jumlah berapa. Ya, masih ratusan ribu. Nah, jelas bahwa UN bisa menjadi ‘monster’ bagi siswa dan orang tua. UN menjadi ‘pembunuh’ bagi anak-anak kita. Membuat mereka layu sebelum berkembang dan mengakhiri masa depannya di usia yang masih terlalu dini.

Akibat ketidaklulusan dalam UN, tidak sedikit siswa yang mengalami trauma psikologis. Bahkan, tidak jarang mereka berhenti sekolah akibat tidak lulus ujian. Jika demikian, jelas UN menjadi salah satu penyebab putus sekolah. Suatu hal yang sangat ironi di tengah upaya meningkatkan partisipasi pendidikan warga negara kita yang tergolong masih rendah.

Melihat persyaratan kelulusan UN tahun 2008, jelas merupakan tantangan bagi siswa, guru, sekolah, dan orang tua. Untuk dapat lulus, nilai rata-rata yang disyaratkan minimal 5,25 meningkat dari tahun lalu yang hanya 4,5. Siswa juga tidak boleh memperoleh nilai dibawah 4,0 yang merupakan nilai mati. Syarat kelulusan UN dapat dilihat www.unsmpyps.wordpress.com

Jumlah mata pelajaran yang diujikan juga bertambah dibanding tahun sebelumnya. Misalnya saja SMP, untuk tahun ini mata pelajaran IPA Terpadu akan menjadi mata ujian UN. Nah, IPA Terpadu inilah yang dapat menjadi momok bagi siswa. Karena guru dan siswa minim ‘pengalaman’ materi yang diujikan dalam UN karena telah vakum diujikan secara nasional dalam beberapa tahun.

Dalam beberapa uji coba Ujian Nasional yang dilakukan di daerah, terlihat bahwa IPA Terpadu merupakan mata pelajaran yang paling susah dilulusi  siswa. Tingkat ketidaklulusannya dalam uji coba sangat tinggi. Selain itu, survey penulis terhadap siswa peserta ujian juga menunjukkan IPA Terpadu berada pada urutan pertama mata pelajaran yang dikhawatirkan siswa menjadi penyebab ketidaklulusannya.

Melihat gambaran ini, kita mesti waspada terhadap ketidaklulusan UN kali ini. Bukan tidak mungkin angka ketidaklulusan angka meningkat dibanding tahun lalu. Suatu hal yang tentu kita tidak inginkan.

Posted by: itiw | March 29, 2008

Strategi Jitu Lulus Ujian Nasional 2008

Ditulis pada oleh sultanhabnoer

Syarat kelulusan yang meningkat dibandingkan tahun lalu menjadi tantangan bagi guru, siswa, sekolah, dan juga orang tua. Belajar saja tidak cukup. Untuk dapat lulus Ujian Nasional (UN), diperlukan strategi jitu. Beberapa strategi berikut dapat dilakukan dalam menghadapi UN 2008.

Pertama, pelajari dan kuasai materi dari soal-soal yang diujikan dalam UN tahun lalu hingga beberapa tahun lalu. Ini penting, karena dari tahun ke tahun, soal-soal yang diujikan dalam ujian nasional cenderung merupakan pengulangan dari tahun sebelumnya. Artinya, soal-soal tersebut berasal dari materi yang sama tetapi mengalami sedikit modifikasi. Misalnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, tahun 2006 yang lalu menanyatakan amanat yang tekandung dalam petikan cerpen, pertanyaan yang sama kembali muncul pada tahun 2007 hanya dengan mengubah petikan cerpennya. Begitu juga materi lain dan pelajaran lainnya. Pengulangan materi dari tahun ke tahun dalam ujian nasional bisa mencapai 60-70 %. Bayangkan saja jika siswa menerapkan strategi ini, berarti mereka sudah dapat menjawab soal ujian hingga 70 % pula.

Kedua, miliki panduan ujian yang dikeluarkan BNSP melalui Puspendik, utamanya contoh-contoh soal yang diberikan. Mengapa? Boleh dikatakan bahwa contoh-contoh soal tersebut merupakan ‘pembocoran’ soal UN secara halus. Artinya, bentuk soal tersebut akan keluar hanya dengan sedikit perubahan. Jadi, kalau misalnya di panduan tersebut dicontohkan 15 item soal, kuasailah materi dan cara penyelesainnya. Kelak di UN siswa akan menyelesaikan dengan mudah dan benar pula 15 item soal. Jika demikian, nilai 3,0 sudah berada di tangan.

Ketiga, kuasai materi-materi yang yang terdapat dalam Standar Kompetensi Kelulusan (SKL). Sudah bisa dipastikan bahwa SKL merupakan acuan utama pembuatan soal UN. Soal-soal yang diujikan tidak akan melenceng dari SKL tersebut.

Keempat, perbanyak berlatih menyelesaikan prediksi soal-soal.  Dengan seringnya berlatih, siswa akan terbiasa menyelesaikan soal-soal dengan berbagai variasi. Kelak ketika tiba di ‘pertempuran’ yang sesungguhnya siswa tidak kaget lagi dengan model soal yang ada.

Hal-hal di atas merupakan strategi teknis yang dapat dilakukan. Namun, demikian strategi untuk hal-hal nonteknis juga tidak kalah pentingnya. Untuk itu, berikut ini beberapa strategi nonteknis yang dapat dilakukan.

Pertama, khusus soal bacaan (utamanya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris), bacalah terlebih dahulu pertanyaan sebelum membaca bacaan. Mengapa? Membaca bacaan membutuhkan waktu yang lama dan itu berarti Anda kehilangan waktu. Selain itu, jika Anda membaca bacaan terlebih dahulu baru kemudian membaca pertanyaan, bisa jadi Anda akan kembali mengulang membaca bacaan tersebut untuk kedua kalinya. Berapa lama waktu Anda terbuang?

Contoh kasus, jika pertanyaan hanya menanyakan ide pokok paragraf pertama, berarti Anda hanya butuh membaca paragraf pertama. Tidak perlu membaca bacaan secara keseluruhan karena itu hanya membuang waktu.

Kedua, dahulukan soal yang mudah. Ini strategi yang sudah umum tetapi sangat penting. Anda tidak bisa berlama-lama membuang waktu untuk satu item soal yang susah. Selesaikan dulu soal yang mudah baru kemudian kembali ke soal yang susah. Memperoleh nilai yang tinggi dalam UN sangat penting, tetapi untuk lulus tidak mesti memperoleh nilai 10. Jadi, soal yang mudah akan membantu Anda lulus.

Ketiga, eleminasi segera jawaban yang Anda pastika salah. Untuk siswa SMP, terdapat empat pilihan jawaban. Artinya, persentase kemungkinan benar untuk setiap item soal sebesar 25 %. Tetapi, jika Anda mengeleminir satu saja pilihan jawaban dengan memastikan pilihan tersebut salah, maka persentase kebenaran jawaban Anda menjadi 33,3 %. Bahkan jika Anda mengeleminir dua jawaban, persentase kebenaran Anda sudah 50 %. Jika sudah seperti ini dan Anda betul-betul tidak bisa memilih satu diantara dua jawaban yang tersedia, peluang Anda untuk menjawab benar sudah 50 %. Jadi, ‘tembak’ saja!

Keempat, hati-hati dengan bocoran soal yang sering kali beredar menjelang UN. Untuk keuntungan pribadi, sering kali orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengedarkan soal yang diklaim sebagai bocoran soal UN. Padahal, tujuan mereka hanya untuk meraup keuntungan dengan menjual soal tersebut. Hal ini dapat membuat siswa terlena karena merasa yakin sudah memperoleh bocoran soal, mereka tidak belajar lagi.

Kelima, hati-hati dengan kunci jawaban palsu. Sama dengan poin keempat di atas, menjelang UN sering kali beredar kunci jawaban yang dibuat orang tak bertanggung jawab untuk keuntungan pribadi. Ini sangat berbahaya! Lebih berbahaya dibandingkan dengan poin empat di atas. Bayangkan saja, jika kuncil tidak memiliki hubungan dengan jawaban. Anda sangat mungkin tidak lulus UN. 

Selain itu, penting juga menanamkan dalam diri Anda bahwa lulus Ujian Nasional merupakan target dan tujuan utama. Tetapi, melakukan kecurangan untuk lulus harus ‘diharamkan’ bagi diri kita. Tidak ada gunanya menghalalkan segala cara seperti poin empat dan lima di atas.

Ingat!  Lulus UN,  Yess! Berbuat curang, No! 

Semoga strategi ini bisa membantu Anda untuk lulus ujian.

Posted by: itiw | March 29, 2008

Kota Tanpa Kelamin

Judul : Kota Tanpa Kelamin
Penulis : Lan Fang
Penyunting : A.S. Laksana
Penerbit : Mediakita
Cetakan : I, 2007
Tebal : 148 hal

Lan Fang, perempuan pemuja mandi yang suka bangun siang ini termasuk pengarang yang produktif. Mungkin mandi dan bangun siang berpengaruh pada derasnya proses kreatif menulisnya yang terus mengalir tanpa henti. Lihat saja, sejak tahun 1986 hingga kini cerpen-cerpennya mengalir dan dimuat di sejumlah koran dan majalah. Pada tahun 2003 lahirlah novel pertamanya Reinkarnasi (Gramedia, 2003). Semenjak kelahiran buku pertamanya, karya-karya berikutnya seolah tak terbendung untuk diterbitkan, Pai Yin (Gramedia,2004), Kembang Gunung Purei (Gramedia,2005), Laki-laki yang Salah (Gramedia, 2006), Perempuan Kembang Jepun (Gramedia,2006), Yang Liu (Bentang, 2006). Dan yang teranyar adalah kumpulan cerpen Kota Tanpa Kelamin (Mediakita,2007).

Kota Tanpa Kelamin, merupakan kumpulan cerpen yang berisi 12 cerpen yang memiliki keragaman tema baik yang realis maupun yang surealis. Cerpen Kota Kelamin Itu Kosong yang dijadikan judul buku ini merupakan cerpen surealis. Kisahnya menceritakan tokoh Lan Fang, seorang penulis yang berada di sebuah tempat yang aneh ;

Ia berada di sebuah tempat di mana aku banyak sekali berpapasan dengan penis, vagina, tetek, pentil, selangkangan. Mereka semua hilir mudik, lalu lalang, mondar-mandir dengan bentuknya yang beragam. Ada penis yang tertunduk malu-malu, mencuat marah, tegang, lalu muntah-muntah…..(hal 136)

Di tempat tersebut Lan Fang bertemu dengan pengarang Hudan yang memberitahunya bahwa ia berada di Kota Kelamin. Lalu terjadilah dialog filosofis soal kekosongan antara Lan Fang dengan Hudan ;

“Bukankah kosong justru memberimu ruang lebih lama untuk mengontrol kekosonganmu. : (hal 138)

kekecewaan dan pertanyaannya pada Tuhan ;

Oh! Apakah Tuhan begitu arogan? Dia hanya bersemayam di dalam masjid, gereja, pura, vihara, kelenteng, mushola, dan Dia tidak mau menoleh kepadaku yang sedang dalam keadaan sekarat terkapar di jalan yang basah karena hujan meleleh dari tingkap-tingkap langit. (hal 142)

Dan hubungan antara kekosongan dengan Tuhan ;

Aku tidak mau kekosongan itu berkuasa atas diriku. Kosong bukan Tuhan. Tetapi Tuhan ada di dalam kosong. Aku harus mencari-Nya. Lalu aku menggeliat dan membentuk, mengisi kosong itu. Aku mencari Yang Maha.(hal 146)

Cerpen yang terinspirasi oleh karya Hudan Hidayat (Tuan dan Nyonya Kosong) ini memang bukan cerpen yang mudah dicerna karena sarat dengan dialog-dialog filosofis. Klimak di cerpen ini adalah puncak kebingungan ketika seseorang menemui kejenuhan dan kekosongan yang sempurna. Setelah lama terlarut di kota kelamin, ternyata hanya “kekosongan” yang didapat.

Selain cerpen di atas , ada juga cerpen yang terinspirasi oleh karya pengarang lain. Yaitu cerpen “Saya Bukan Olenka” yang mengingatkan orang pada tokoh Olenka dan Fanton Drummond. Cerpen ini mengisahkan tokoh ‘saya’ yang terobsesi dengan Panton.

Saya ingin seperti Olenka yang bisa begitu saja meninggalkan Fanton Drumond sehabis menciumi, menggigit, dan menghisap seluruh darah di tubuhnya. (hal 104)

Karena obsesinya ini, tokoh dalam cerpen ini akhirnya hidup dalam situasi yang serba kalut karena Panton ternyata mengambil semangat hidupnya.

Masih banyak kisah-kisah lain dalam buku ini. Walau didominasi oleh kisah-kisah cinta dimana biasanya tokoh prianya digambarkan sebagai tokoh yang tidak setia, ada juga kisah yang unik seperti Si Otong dan Putri Bulan yang mengambil sudut pandang seeokor anjing, atau cerpen Anak anjing Berkepala Kambing yang memiliki ending yang menghentak dan mengejutkan.

Masih menjadi ciri khas Lan Fang, keseluruhan cerpen-cerpennya ditulis dengan tuturan yang beragam , kadang terkesan puitis, seperti yang terdapat dalam cerpen “Pantat”

“Delapan mulut menganga di dalam sebuah petak reyot dari bambu di pnggir jalan yang setiap saat bisa digusur. Delapan mulut dahaga menunggu air tetes air jemariku yang kasar menerima jatah cuci dari rumah ke rumah. Delapan hati memendam berbagai rasa yang tidak terurai dari delapan pasang mata yang tidak pernah punya mimpi tentang hari esok, karena setiap hari yang dilihat dan dirasakan hanyalah kemiskinan (hal 94)

pada cerpen “Saya Bukan Olenka” mengumbar kemarahan yang meledak-ledak,

Saya jengkel dan ingin meninju hidung Panton. Dengan sekali tinju saja pastilah hidungnya remuk. Saya juga ingin mengobok-ngobok mulutnya yang selalu berbicara besar, lalu menarik lidahnya keluar dari rongga mulut itu, (hal 104)

Selain itu, banyak metafora-metafora yang digunakan untuk menggiring pembaca masuk dalam emosi cerita, seperti yang terungkap dalam cerpen “Ampas”

Aku membutuhkan dia di dekatku pagi sampai malam sampai pagi lagi seperti Fanton Drummond membutuhkan Olenka. Bukan sekedar menjadikan tubuhnya seperti sebuah peta yang kugelar di mana saja dan kutelusuri setiap lekuk ceruk bukit, ngarai, lembah, dan rel kereta api atau sekedar bermain seluncur. Tapi Ia benar-benar peta hidupku. Aku membutuhkan isi kepala dan hatinya, sebagai peta semangatku.
(hal 25).

Sebagian besar cerpen-cerpennya memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, buka tak mungkin buku ini akan habis terbaca dalam sekali duduk. Hanya saja yang mungkin membuat pembaca agak tersendat adalah cerpen-cerpen yang surealis seperti : cerpen Kota Kelamin Itu Kosong, Si Otong dan Putri bulan, dll dimana jika pembaca gagal mengartikannya, maka cerpen-cerpen itu hanya sekedar rangkaian kalimat yang berisi kisah aneh tanpa makna.

Dari segala apa yang ada dalam buku ini, ada beberapa ‘keunikan’ yang tidak biasa kita jumpai dalam buku-buku kumpulan cerpen, yaitu :

– Tidak adanya daftar isi. Tentu saja hal ini menyulitkan pembaca jika ingin membaca ulang cerpen-cerpen pilihannya
– Tidak adanya jejak cerpen. Biasanya cerpen-cerpen yang dibukukan pernah dipublikasikan di berbagai media cetak. Apakah seluruh cerpen dalam buku ini belum pernah dipublikasikan ? Setahu saya cerpen Anak Anjing berkepala Kambing pernah dimuat di Koran PR beberapa bulan yang lalu.
– Biasanya yang dijadikan judul buku kumpulan cerpen adalah judul salah satu cerpen yang ada dalam buku tersebut. Pada buku ini, judul cerpen yang dijadikan judul buku berubah dari “Kota Kelamin Itu Kosong” menjadi “Kota Tanpa Kelamin”

Apakah beberapa keunikan tadi memang disengaja ?
Namun dari segala kisah-kisah yang tersaji dan keunikan penyajikan buku ini, cerpen-cerpen Lan Fang dalam buku ini yang dieditori oleh A.S Laksana tetap menarik dan enak untuk dinikmati sambil menyeruput secangkir teh hangat di sore hari.

Posted by: itiw | March 29, 2008

Siapa Bilang Kawin Itu Enak ?

Judul : Siapa Bilang Kawin Itu Enak ?
(Kumpulan certia pendek tentang pasangan muda)
Penulis : Tria Barmawi
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : September 2006
Tebal : 176 hlm ; 21 cm
Harga : Rp. 29.000,-

Judul kumpulan cerpen ini sangat provokatif. Bagaimana tidak, dalam benak kita pernikahan adalah sesuatu yang indah dan menjadi peristiwa yang sangat dinantikan bagi mereka yang telah memiliki pasangan yang serius, menikah adalah momen paling membahagiakan seperti yang dilihat dalam film-film drama romantis.

Apakah buku ini memang mencoba menjungkirbalikkan pandangan umum tentang indahnya pernikahan ? Tentu saja tidak! Buku ini hanya memandang saat pernikahan dan masa-masa setelahnya dalam sudut pandang yang berbeda. Sesuai dengan sub judulnya, “Kumpulan cerita pendek tentang pasangan muda”, semua cerita pendek yang terdapat dalam buku ini menceritakan tentang suka duka pasangan muda dalam menjalani pernikahan mereka.

Buku yang diberi label Metropop oleh penerbitnya ini berisi 17 cerpen yang dipilah berdasarkan tema yang lebih sempit lagi menjadi 5 bagian yang terdiri dari, Dua Jadi Satu, Tabir Mulai Terkuak, Cinta tak lagi cukup, Bumbu Cinta, Bersama Selamanya.

Pada Bagian Dua Jadi Satu, bab ini berisi dua buah cerpen dengan kisah-kisah sebelum pernikahan itu berlangsung. Salah satunya cerpen yang dijadikan judul buku ini : “Siapa Bilang Kawin Itu Enak”. Cerpen ini menceritakan bagaimana ribetnya mempersiapkan sebuah pernikahan, mulai dari soal undangan, seragam, katering, dll. Sini, aku kasih tahu ya,! Satu. Camkan. Persiapan pernikahan adalah mimpi buruk. Dari beberapa bulan, bahkan mungkin satu tahun sebelum Hari-H, kalian bakalan dibuat sibuk segala macam hal. (hal 22). Tidak itu saja, ‘siksaan-siksaan’ yang harus dilalui sang pengantin di hari pernikahannya pun terungkap secara menarik dan lucu. Pada akhirnya alih-alih hari-H yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, malah menjadi puncak dari sebuah mimpi buruk.

Di bagian kedua hingga bagian kelima, tema-tema cerpen bergeser pada masalah-masalah sepele yang kerap timbul bagi para pasangan muda yang belum lama menikah. Berbagai cerita yang menggelitik dan inspiratif terdapat didalamnya, antara lain keributan di kamar tidur seperti yang terungkap dalam cerpen “Di Kamar Tidur” yang mengungkap bagaimana kebiasaan suami dan istri menjelang dan pada saat tidur dapat memicu sebuah konflik seperti posisi tidur, suhu AC, menonton TV, lampu kamar, dll.

Tidak hanya masalah kebiasaan dalam tidur, persoalan yang menyangkut selera lidahpun terungkap dalam buku ini. Dalam cerpen “Ketika Lidah Jadi Masalah” dikisahkan pasangan berbeda bangsa yang bermukim di Malaysia dimana Raj seorang Malaysia keturunan India beristrikan seorang Indonesia bernama Nina. Dalam hal makanan Raj hanya bisa mengkonsumsi makanan kari khas India kesukaannya. Selama tinggal di Malaysia hal ini tak menjadi masalah karena Nina tetap setia memasakkan kari untuk Raj. Persoalan timbul ketika mereka mengunjungi keluarga Nina di Indonesia dan bumbu instan kari yang dibeli di Malaysia tertinggal. Cerpen ini menarik karena penulis memasukkan dialog-dialog khas melayu yang bagi kita terdengar lucu, misalnya komentar Raj terhadap sayur sop : “Tapi I tak suka apa itu..masakan Indonesia. Nanti you buat I makan macam masakan you di sini..sayur without spices itu…”,…“Sedep macam mane? Sayur dak de warna, tak de rasa…mana boleh cakap sedap lah!” (hal 56)

Tidak hanya itu, buku ini mengungkap pula bagaimana ketika cinta yang menggebu-gebu di awal masa pacaran menjadi hambar oleh rutinitas seperti yang terdapat dalam cerpen “Telah Terbiasa”. Apalagi ketika kehadiran seorang bayi membuat seolah cinta yang tadinya hanya untuk masing-masing pasangan kini harus berbagi dengan hadirnya buah cinta mereka (cerpen Jealousy).

Secara keseluruhan cerpen-cerpen yang terdapat dalam buku ini berisi cerita-cerita yang menghibur yang menceritakan bagaimana para pasangan muda harus beradaptasi dan berkompromi dengan pasangan hidupnya. Tidak ada cerita dengan konflik-konflik yang berat, tema-tema yang diangkat semuanya ringan-ringan saja, menggelitik, sederhana dan realistis dan sangat dekat dengan keseharian kita sehingga ketika kita membacanya kita seolah membaca kisah diri kita sendiri dan menertawakan diri sendiri.

Yang mungkin agak disayangkan adalah sudut pandang seluruh kisah dalam buku ini hanya diambil dari sisi pasangan muda nya saja. Andai beberapa cerpen disajikan dengan sudut pandang yang berbeda, misalnya dari sudut pandang orang tua atau mertua masing-masing pasangan, tentunya buku ini akan lebih ‘berwarna’

Selain itu walau tampaknya penulis mencoba menyuguhkan kisah-kisah yang realistis, ada dua buah cerpen yang tampaknya sedikit mengada-ngada. Pada cerpen “One Night in Valley” rupanya penulis terjebak dalam kisah-kisah romantis ala Hollywod dimana si pria memberikan cincin pada istrinya sambil mengungkapkan cintanya di sebuah restoran dengan disaksikan oleh para pengunjung restoran. Adegan ini mengingatkan kita pada adegan di film-film drama romantis. Kenyatannya untuk budaya timur rasanya hal seperti ini agak janggal untuk dilakukan.

Lalu pada cerpen “Telah Terbiasa”, dikisahkan untuk mengatasi kejenuhan akibat rutinitas kehidupan perkawinan mereka, si istri menganjurkan suaminya untuk meminta tugas ke luar kota selama beberapa waktu. Rasanya hal ini tak lumrah dilakukan oleh seorang istri yang pada kisah ini masih sangat mencintai suaminya, mana ada sih istri yang mau ditinggal oleh suaminya dengan alasan jenuh pada pernikahan mereka ?

Namun terlepas dari hal-hal di atas ,secara keseluruhan kumpulan cerpen dalam buku ini tampaknya mampu memotret kehidupan pasangan muda dalam keseharian mereka. Semua cerita-ceritanya menghibur namun bukan sekedar membuat pembacanya tertawa, namun buku ini memberikan gambaran realistis bahwa kehidupan perkawinan tidak selamanya indah seperti dalam kisah-kisah dongeng. Pernikahan bukan hanya sekedar bukti cinta kita pada pasangannya melainkan pertautan dua hati beserta kebiasaan-kebiasaan masing-masing pribadi yang jika tidak dikomunikasikan dan diselaraskan akan memicu konflik dalam kehidupan perkawinan.

Sebagai tambahan, bagi pembaca yang telah menikah, beberapa cerpen dalam buku ini bisa dikatakan merupakan cerminan dirinya sehingga mereka umumnya akan berkata bahwa buku ini “Gue Banget!!!!”

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.